HUBUNGAN ONLINE SELF-DIAGNOSIS DENGAN CYBERCHONDRIA PADA REMAJA DI SMAN KALISAT

Utomo, Moh. Rendy Windar Mulya (2026) HUBUNGAN ONLINE SELF-DIAGNOSIS DENGAN CYBERCHONDRIA PADA REMAJA DI SMAN KALISAT. Other thesis, Universitas dr. SOEBANDI.

[thumbnail of Abstrak Rendy.pdf] Text
Abstrak Rendy.pdf

Download (241kB)

Abstract

Latar Belakang: Pesatnya perkembangan teknologi digital telah memberikan kemudahan bagi remaja dalam memperoleh berbagai informasi kesehatan melalui internet. Kondisi ini mendorong meningkatnya perilaku online self-diagnosis, yaitu aktivitas mencari, menafsirkan, dan memanfaatkan informasi kesehatan secara mandiri tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Di satu sisi, perilaku tersebut dapat memperluas pengetahuan mengenai kesehatan, namun di sisi lain berisiko meningkatkan kecemasan terhadap kondisi kesehatan yang dikenal sebagai cyberchondria. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku online self-diagnosis dengan tingkat cyberchondria pada remaja di SMAN Kalisat. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan korelasional cross-sectional. Sebanyak 187 responden dipilih melalui teknik probability sampling dengan metode cluster sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Online Health Information Seeking Behavior (OHISB) untuk mengukur perilaku online self-diagnosis dan Cyberchondria Severity Scale (CSS-15) untuk menilai tingkat cyberchondria. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman Rank dengan taraf signifikansi 5% (α = 0,05). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kategori sedang untuk perilaku online self-diagnosis, yaitu sebanyak 90 responden (48,1%), sedangkan kategori tinggi ditemukan pada 61 responden (32,6%). Tingkat cyberchondria juga didominasi kategori sedang dengan 113 responden (60,4%), diikuti kategori rendah sebanyak 61 responden (32,6%). Analisis Spearman Rank menghasilkan nilai p-value = 0,000 (p<0,05) dengan koefisien korelasi (r) sebesar 0,581, yang mengindikasikan adanya hubungan positif dengan kekuatan korelasi sedang antara perilaku online self-diagnosis dan cyberchondria. Kesimpulan: Penelitian ini membuktikan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara perilaku online self-diagnosis dengan tingkat cyberchondria pada remaja di SMAN Kalisat. Semakin tinggi kecenderungan remaja melakukan online self-diagnosis, semakin tinggi pula risiko mengalami cyberchondria. Oleh karena itu, upaya peningkatan literasi kesehatan digital melalui pendidikan di sekolah dan pendampingan dari tenaga kesehatan perlu dioptimalkan agar remaja mampu mengakses, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi kesehatan dari internet secara lebih bijaksana, kritis, dan bertanggung jawab.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: R Medicine > RT Nursing
Depositing User: Unnamed user with email perpustakaan@stikesdrsoebandi.ac.id
Date Deposited: 27 Aug 2026 07:25
Last Modified: 27 Aug 2026 07:25
URI: https://repo.uds.ac.id/id/eprint/3170

Actions (login required)

View Item
View Item