PERBANDINGAN KADAR SGOT DAN SGPT PADA PASIEN TB PARU YANG MENGGUNAKAN OAT FASE INTENSIF DAN FASE LANJUTAN

Mukti, Canticha (2026) PERBANDINGAN KADAR SGOT DAN SGPT PADA PASIEN TB PARU YANG MENGGUNAKAN OAT FASE INTENSIF DAN FASE LANJUTAN. Other thesis, Universitas dr. SOEBANDI.

[thumbnail of Abstrak Cantich.pdf] Text
Abstrak Cantich.pdf

Download (240kB)

Abstract

Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia, termasuk di Indonesia. Pengobatan TB menggunakan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) terdiri atas fase intensif dan fase lanjutan. Penggunaan OAT, khususnya pada fase intensif, berpotensi menyebabkan hepatotoksisitas dengan angka kejadian yang dilaporkan berkisar 2–28%. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa 26% pasien TB mengalami peningkatan kadar SGOT dan SGPT selama menjalani terapi OAT. Oleh karena itu, pemantauan kadar Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) dan Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) diperlukan untuk mendeteksi gangguan fungsi hati sejak dini. Tujuan: Menganalisis perbedaan kadar SGOT dan SGPT pada pasien tuberkulosis paru yang menjalani pengobatan OAT fase intensif dan fase lanjutan di Rumah Sakit Paru Jember. Metode: Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan retrospektif menggunakan data rekam medis pasien tuberkulosis paru di Rumah Sakit Paru Jember. Sampel diambil menggunakan teknik total sampling dan diperoleh 70 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test untuk membandingkan kadar SGOT dan SGPT pada fase intensif dan fase lanjutan dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata kadar SGOT menurun dari 47,34 U/L pada fase intensif menjadi 33,40 U/L pada fase lanjutan. Rata-rata kadar SGPT juga menurun dari 37,40 U/L menjadi 25,34 U/L. Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05) pada kedua parameter, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara kadar SGOT dan SGPT pada fase intensif dan fase lanjutan. Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang bermakna pada kadar SGOT dan SGPT antara fase intensif dan fase lanjutan pengobatan OAT. Penurunan kadar kedua enzim hati pada fase lanjutan menunjukkan adanya perbaikan fungsi hati setelah perubahan regimen pengobatan. Pemantauan kadar SGOT dan SGPT secara berkala selama terapi OAT diperlukan untuk mendeteksi hepatotoksisitas sejak dini serta mendukung keberhasilan pengobatan tuberkulosis.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: R Medicine > RS Pharmacy and materia medica
Depositing User: Unnamed user with email perpustakaan@stikesdrsoebandi.ac.id
Date Deposited: 11 Sep 2026 03:21
Last Modified: 11 Sep 2026 03:21
URI: https://repo.uds.ac.id/id/eprint/3292

Actions (login required)

View Item
View Item