HUBUNGAN DURASI ANESTESI DENGAN KEJADIAN PONV PADA PASIEN OPERATIVE TEKNIK LMA DI KAMAR OPERASI RSUD PASIRIANHUBUNGAN DURASI ANESTESI DENGAN KEJADIAN PONV PADA PASIEN OPERATIVE TEKNIK LMA DI KAMAR OPERASI RSUD PASIRIAN

Anam, Syaiful (2026) HUBUNGAN DURASI ANESTESI DENGAN KEJADIAN PONV PADA PASIEN OPERATIVE TEKNIK LMA DI KAMAR OPERASI RSUD PASIRIANHUBUNGAN DURASI ANESTESI DENGAN KEJADIAN PONV PADA PASIEN OPERATIVE TEKNIK LMA DI KAMAR OPERASI RSUD PASIRIAN. Other thesis, Universitas dr. SOEBANDI.

[thumbnail of Abstrak Syaiful Anam.pdf] Text
Abstrak Syaiful Anam.pdf

Download (245kB)

Abstract

Latar Belakang: Komplikasi berupa Postoperative Nausea and Vomiting (PONV)
kerap dikeluhkan oleh pasien pasca-anestesi umum. Dampak dari kondisi ini
meliputi gangguan kenyamanan, perpanjangan waktu pemulihan, hingga
pembengkakan biaya logistik medis. Salah satu pemicu utama yang diduga
melandasi tingginya risiko PONV adalah lamanya waktu pembiusan, mengingat hal
tersebut berbanding lurus dengan kuantitas paparan obat anestesi jenis inhalasi dan
opioid. Kendati pemakaian metode Laryngeal Mask Airway (LMA) kian masif di
RSUD Pasirian, studi empiris yang memetakan korelasi antara lamanya waktu
anestesi dan munculnya gejala PONV masih belum tersedia.
Tujuan: Menganalisis korelasi antara lamanya waktu pembiusan terhadap
munculnya insidensi PONV pada kelompok pasien bedah yang menggunakan
metode LMA di ruang operasi RSUD Pasirian.
Metode: Studi kuantitatif ini didesain sebagai penelitian observational analytic
lewat pendekatan rentang waktu cross-sectional. Melalui teknik total sampling,
didapatkan sampel sebanyak 58 pasien bedah dengan anestesi umum bersaluran
napas LMA yang memenuhi kriteria riset. Instrumen pengumpulan data
memanfaatkan lembar observasi klinis PONV, diikuti dengan analisis data
menggunakan pengujian statistik Chi-Square pada standar signifikansi (alpha =
0,05).
Hasil: Data menunjukkan bahwa mayoritas pasien (56,9%/33 orang) menjalani
proses pembiusan kurang dari 60 menit, sementara 43,1% (25 orang) sisanya
terpapar lebih dari satu jam. Keluhan mual-muntah pasca-bedah ditemukan pada 26
pasien (44,8%), sedangkan 32 pasien (55,2%) bebas dari komplikasi tersebut. Pada
sub kelompok durasi anestesi <60 menit, hanya 15,2% (5 orang) yang mengalami
PONV, sementara 84,8% (28 orang) tidak mengalaminya. Sebaliknya, pada sub
kelompok durasi anestesi >60 menit, angka PONV melonjak hingga 84,0% (21
orang) dan hanya 16,0% (4 orang) yang asimtomatik. Pengujian Pearson Chi-
Square menghasilkan nilai p=0,000 (p<0,05), menandakan adanya hubungan yang
sangat bermakna secara statistik. Hasil perhitungan Risk Estimate memperoleh
angka Odds Ratio (OR) senilai 0,034 (95% CI: 0,008–0,142). Interpretasi
matematisnya menunjukkan bahwa subjek dengan paparan pembiusan di atas 60
menit berisiko mengalami PONV sebesar 29,4 kali lebih tinggi ketimbang subjek
dengan durasi di bawah 60 menit.
Kesimpulan: Durasi tindakan anestesi memiliki kaitan erat yang signifikan dengan
angka kejadian PONV pada pasien pengguna teknik jalan napas LMA di instalasi
bedah RSUD Pasirian. Batas waktu pembiusan yang melebihi satu jam terbukti
secara klinis melipatgandakan risiko timbulnya efek mual-muntah. Data ini
diharapkan mampu melandasi urgensi skrining risiko dini sekaligus pemberian
terapi profilaksis antiemetik secara selektif bagi pasien yang diproyeksikan
menjalani operasi berdurasi panjang.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: R Medicine > RT Nursing
Depositing User: Unnamed user with email perpustakaan@stikesdrsoebandi.ac.id
Date Deposited: 16 Oct 2026 03:50
Last Modified: 16 Oct 2026 03:50
URI: https://repo.uds.ac.id/id/eprint/3480

Actions (login required)

View Item
View Item