Safira, Adinda (2026) EVALUASI PENGGUNAAN BRONKODILATOR DENGAN METODE ATC /DDD DAN DU90% PADA PASIEN PPOK di RUMAH SAKIT PARU JEMBER. Other thesis, Universitas dr. SOEBANDI.
Abstrak Dinda.pdf
Download (197kB)
Abstract
Pendahuluan : Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyakit paru kronis yang ditandai
dengan hambatan aliran udara persisten dan progresif. Bronkodilator merupakan terapi utama dalam
pengelolaan PPOK sehingga diperlukan evaluasi penggunaannya untuk menjamin rasionalitas,
keamanan, dan efektivitas terapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan bronkodilator
pada pasien PPOK rawat inap di Rumah Sakit Paru Jember periode Januari – Desember 2025
menggunakan metode Anatomical Therapeutic Chemical/Defined Daily Dose (ATC/DDD) dan Drug
Utilization 90% (DU90%). Metode : Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan
desain observasional kuantitatif dan pendekatan retrospektif. Data diperoleh dari rekam medis pasien
PPOK rawat inap di Rumah Sakit Paru Jember periode Januari – Desember 2025. Populasi penelitian
sebanyak 170 pasien dan diperoleh sampel sebanyak 120 pasien menggunakan teknik purposive sampling
berdasarkan kriteria inklusi. Data dianalisis secara univariat untuk menggambarkan frekuensi dan
persentase penggunaan bronkodilator. Hasil : Penelitian melibatkan 120 pasien PPOK rawat inap di
Rumah Sakit Paru Jember. Karakteristik pasien didominasi oleh laki-laki (65%) dan kelompok usia >66
tahun (46,67%). Penggunaan bronkodilator paling banyak melalui rute inhalasi (56,84%), dengan
meprovent sebagai obat yang paling sering diresepkan (47,54%), di ikuti theobron (20,21%) dan
aminofilin (15,30%). Hasil evaluasi kuantitatif menggunakan metode ATC/DDD menunjukkan bahwa
meprovent inhaler memiliki nilai penggunaan tertinggi sebesar 59,21 DDD/100 patient-days, yang
mengindikasikan tingginya intensitas penggunaan obat tersebut pada pasien PPOK rawat inap. Analisis
DU90% menunjukkan bahwa meprovent inhaler, theobron oral, dan farbivent inhaler merupakan obat
yang masuk dalam segmen DU90%, sehingga menjadi bronkodilator yang paling dominan digunakan
selama periode penelitian. Kesimpulan : Penelitian ini melibatkan 120 pasien PPOK rawat inap di Rumah
Sakit Paru Jember periode Januari – Desember 2025. Profil penggunaan bronkodilator menunjukkan
bahwa meprovent merupakan bronkodilator yang paling banyak digunakan sebanyak 87 resep (47,54%),
diikuti theobron sebanyak 37 resep (20,21%) dan aminofilin sebanyak 28 resep (15,30%). Rute pemberian
yang paling banyak digunakan adalah inhalasi (56,84%), diikuti oral (27,86%) dan intravena (15,30%).
Hasil evaluasi penggunaan bronkodilator dengan metode ATC/DDD menunjukkan bahwa meprovent
inhaler memiliki nilai penggunaan tertinggi sebesar 59,21 DDD/100 patient-days. Berdasarkan analisis
DU90%, bronkodilator yang termasuk dalam segmen DU90% adalah Meprovent inhaler, theobron oral,
dan farbivent inhaler, sedangkan aminofilin intravena, teosal oral, spiriva inhaler, combivent inhaler, dan
spiolto inhaler termasuk dalam segmen DU10%.
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Subjects: | R Medicine > RS Pharmacy and materia medica |
| Depositing User: | Unnamed user with email perpustakaan@stikesdrsoebandi.ac.id |
| Date Deposited: | 22 Oct 2026 02:57 |
| Last Modified: | 22 Oct 2026 02:57 |
| URI: | https://repo.uds.ac.id/id/eprint/3525 |
